Skip ke Konten

Menjadi Benih Kebaikan dari Balik Jeruji, WBP Lapas Bengkulu Hayati Ekaristi Kudus Penuh Makna

28 Juli 2026 oleh
Bencoolenews

Bengkulu – Suasana khidmat dan penuh penghayatan menyelimuti Gereja Getsmany Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bengkulu saat puluhan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) mengikuti Perayaan Ekaristi Kudus dengan tema "Menjadi Benih yang Baik" yang diambil dari Injil Matius 13:36–43, Selasa (28/07).

 

Ibadah tersebut dipimpin oleh Romo RP. Paulus Yosse Pratama, SCJ, serta dihadiri penyuluh agama Kristen Katolik dan Protestan dari Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Bengkulu bersama para relawan gereja yang secara rutin memberikan pembinaan kerohanian kepada warga binaan.

 

Perayaan Ekaristi berlangsung dalam suasana sederhana namun penuh makna. Lantunan pujian, doa bersama, serta renungan firman Tuhan mengajak setiap warga binaan untuk merefleksikan perjalanan hidup mereka dan menumbuhkan harapan baru melalui proses pembinaan di dalam lapas.

 

Dalam homilinya, Romo RP. Paulus Yosse Pratama, SCJ mengajak seluruh warga binaan untuk menjadi "benih yang baik" yang mampu bertumbuh dan menghasilkan buah kehidupan yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat setelah menyelesaikan masa pidana.

 

"Tuhan selalu memberi kesempatan kepada setiap orang untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Masa pembinaan ini adalah waktu yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai iman, memperbaiki diri, dan mempersiapkan masa depan yang lebih bermakna. Jadilah benih yang baik yang kelak menghasilkan buah kebaikan di tengah masyarakat," pesan Romo Paulus dalam homilinya.

 

Kegiatan pembinaan keagamaan ini menjadi salah satu wujud nyata komitmen Lapas Kelas IIA Bengkulu dalam memenuhi hak beribadah warga binaan sekaligus membangun karakter, moral, dan spiritual sebagai bagian penting dari proses reintegrasi sosial.

 

Kepala Lapas Kelas IIA Bengkulu, Julianto Budhi Prasetyono, menyampaikan bahwa pembinaan kepribadian melalui pendekatan spiritual memiliki peran strategis dalam membentuk perubahan perilaku warga binaan.

 

"Pembinaan keagamaan merupakan pondasi penting dalam proses pemasyarakatan. Melalui kegiatan seperti Ekaristi Kudus ini, kami berharap warga binaan semakin memiliki kesadaran untuk memperbaiki diri, memperkuat nilai-nilai moral, serta mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik ketika kembali ke tengah masyarakat," ujar Julianto.

 

Ia menambahkan, Lapas Bengkulu terus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Kanwil Kementerian Agama dan komunitas keagamaan, agar pembinaan spiritual dapat berlangsung secara berkesinambungan dan memberikan dampak positif bagi warga binaan.

 

Pelaksanaan Ekaristi Kudus ini juga menjadi bukti bahwa proses pemasyarakatan tidak hanya berorientasi pada aspek keamanan, tetapi juga mengedepankan pembinaan yang humanis melalui penguatan nilai-nilai keimanan, sejalan dengan semangat Pemasyarakatan untuk membentuk warga binaan menjadi insan yang bertanggung jawab, mandiri, dan siap kembali diterima oleh masyarakat.

 

Melalui tema "Menjadi Benih yang Baik", setiap warga binaan diajak untuk menanamkan harapan baru, meninggalkan masa lalu yang kelam, serta bertumbuh menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi sesama. Di balik tembok pemasyarakatan, benih-benih perubahan terus ditanam, dipelihara, dan dipersiapkan untuk tumbuh menjadi kehidupan yang lebih baik di masa depan.

di dalam Berita
Share post ini